Sharing is Caring

Sembuh dari Saraf Kejepit

Mengobati Saraf Terjepit. Semua orang pasti pernah merasa terjepit. Tapi mengalami Saraf Terjepit, tidak semua orang pernah.  Jika sudah pernah pasti lebih memilih sakit hati daripada sakit karena saraf terjepit.

Aku menderita saraf terjepit dan sudah di vonis dokter tidak akan sembuh kalau tidak di operasi. Aku takut operasi. Tapi aku juga sudah tidak kuat menahan sakit terus menerus sepanjang waktu. Aku ingin  mencari second opinion, siapa tahu penyakitku bisa di sembuhkan tanpa operasi.

Dulu sih, 4 tahun yang lalu ketika pertama kali kena, sudah pernah berobat ke alternatif juga, tukang urut dan tukan pijat, tapi tidak sembuh, malah bertambah parah. Lalu tidak pernah lagi kesana, tapi pergi ke dokter. Tapi tetap saja tidak sembuh. Sampai akhirnya dokter berpendapat kalau ingin sembuh total yang harus di operasi.

Melalui internet aku menemukan banyak sekali ahli pengobatan alternatif yang mengaku bisa menyembuhkan saraf terjepit tanpa operasi. Bahkan salah satu dari mereka ada yang menyarankan agar sebelum melakukan operasi saraf terjepit, datang padanya dulu untuk di obati. Kalau dia angkat tangan, baru silahkan operasi.

Aku tertarik untuk datang berobat padanya. Apalahi dukun (orang yang bisa menyembuhkan) wanita dari Pandaan yang akan kudatangi ini sedang virall di dunia maya  tersebut. Dan banyak pasien yang mengaku sembuh setelah berobat padanya.

Tapi suamiku, karena si dukun wanita itu, apapun penyakitnya pasti di hubungkan dengan setan dan makhluk halus.

"Tidak semua, pak. Dia juga bisa menyembuhkan penyakit medis biasa kok. Sakit mama ini kan medis... pasti tidak ada hubungannya dengan setan."

Suami mengajak pergi ke dukun totok saraf saja, yang di Banyuwangi dan di Situbondo. Para ahli totok saraf itu mengobati pasiennya hanya dengan
sentuhan jari. Tapi aku menolak. Karena ahli totok saraf yang di rekomendasikan suamiku adalah pria. Dan aku selalu merasa tidak nyaman sentuh pria lain selain suamiku. Bahkan dokter langgananku, semuanya adalah perempuan.

"Kan papa ada disana menemani mama. Apa yang di takutkan?"

"Pokoknya mama tidak nyaman. Kita ke Pandaan saja."

"Ke Pandaaan itu serem lho ma. Rumah dukunnya itu markasnya setan..." kata suamiku menakut-nakuti.

"Kok papa tahu?"

"Lha kan bu dukun sendiri yang bilang. Kalau setan yang dia keluarkan dari tubuh pasiennya dia buatkan istana di plavon rumah. Jadi setan-setan itu berkumpul di sana."

"Pokoknya, mama mau ke Pandaan dulu. Kalau dari Pandaan tidak sembuh baru kita ke Banyuwangi atau Situbondo."

Suamiku setuju dengan keputusanku. Tapi dia wanti-wanti sejak awal, jangan kaget kalau nanti dukun wanita yang dari Pandaan itu bilang kalau dia kena guna-guna. Aku cuma mesem saja.

Singkat cerita, tibalah aku dan suami di rumah dukun wanita di Pandaan. Karena enggan menunggu lama, aku daftar lewat jalur privacy. Tak perduli meski bayarnya mahal, yang penting hari itu juga bisa di tangani.

Awanya aku takut ketemu bu dukun. Tapi melihat keramahannya dan sense of humornya hatiku sedikit terhibur. Bu dukun menyuruh aku duduk

"Sakit apa, mbak?" tanya bu dukun sambil menatapku ramah.

"Saraf terjepit bu."

Bu dukun tertawa. Dia lalau duduk di sampingku, "mana yang sakit?"

Aku meraba punggung dan pinggangku bagian kiri, "disini bu..."

Bu dukun menyentuh satu bagian di punggungku yang seingatku, tidak pernah terasa sakit. Tapi saat dia memegangnya, tiba-tiba saja semua rasa sakit seperti berkumpul di situ.

"Ini sakit?" tanya bu dukun. Aku mengangguk sambil menahan sakit.

"Ini juga sakit? Sakit dan kaku ya, mbak?" bu dukun menyentuh leherku bagian belakang.

Aku cepat-cepat mengangguk. Dalam hati aku heran, bagaimana dia bisa tahu.

Lalu sentuhannya turun kepinggul ku, "ini sakit juga?"

Aku mengiyakan dengan pasrah. Semua yang di sentuhnya terasa sakit.

Lalu dia menyuruhku berbaring. Dia menyetuh perutku seperti mengeluarkan membuang sesuatu. Semakin banyak dia melakukan gerakan itu, semakin ringan rasa sakit di pingulku dan perutku terasa plong.

"Ayo sekarang duduk lagi..." pinta bu dukun. Aku menurut. Aku duduk kembali. Bu dukun mengeluarkan botol kecil dan mulai menggosok kepalaku. Kulit ku terasa panas. Seperti ada uap yang keluar dari setiap rongga pori-pori. Setelah itu aku merasa ringan.

Lalu bu dukun duduk disampingku. Tangannya meraba dan menyentuh bagian yang sakit di punggungku. Gerakannya seperti meneggaruk dengan jari.

"Ini akan sakit, tahan ya. Sampean baca Al Fatihah dalam hati dan mohon kesembuhan pada Allah.." perintahnya. Aku menurut. Ku pejamkan mataku dan ku khusyukkan hatiku dalam doa mohon kesembuhan pada Allah. Tiba-tiba aku merasa sesuatu disentakkan dari punggungku. Sakitnya tak terkira. Seperti seluruh otot ditubuhku ikut tertarik keluar. Aku menahan jeritan merasakan sakit yang luar biasa itu. Setelah itu, bu dukun kembali menyentuh punggungku seperti menariki sesuatu.

"Wis. Sekarang rasakan. Masih ada yang sakit?"

Aku menggerak-nggerakan punggungku. Menaik turunkan bahuku kiri dan kanan secara bergantian. Aku tidak merasa sakit lagi. Tidak puas, aku berdiri. Memutar pinggangku ke kiri dan kekanan. Menarik tanganku keatas dan kesamping. Pokonya semua pose yang dulu selalu membuatku meringis kesakitan kucoba semua. Dan al hasil, tidak ada rasa sakit lagi.

"Sudah?"

Aku mengangguk dan hendak menarik nafas lega, ketika kurasakan dadaku sedikit sesak. Aku langsung menunjuk kedadaku, "ini bu, masih sakit.."

Bu dukun meraba bagian yang sakit di dadaku dengan jarinya. Aku merasakan ada sesuatu yang terarik keluar seiring denga gerakan tanganya.

"Gimana? Terasa lega?" tanyanya.

Aku mengangguk. B

Bu dukun tersenyum," sudah berapa lama sakit?"

"Sekitar 4 tahun, bu."

"Baru 4 tahun, tambah setahun lagi jadi 5, dapet gelas 1.." candanya. Aku dan hadirin tertawa mendengar gurauannya, "sudah berobat kemana-mana ya?"

Aku mengangguk, "sudah. Tapi masih sakit saja. Sama dokter sudah suruh operasi kalau mau sembuh. Tapi sayaa takut operasi."

"Jadi gini, kalau aku lihat. Mbaknya sering buang sampah sembarangannya? Bukan di tempat sampah. Disitu tempat berkumpulnya anak-anak demit. Mbak mengotori tempat bermain mereka. Mereka marah, trus sampean di tombak.  Mbaknya kena penakit ini setelah jatuh tersungkur kan? itu bukan jatuh sembarangan. Sampean di tombak dari belakang, tombaknya nancep, sampean tersungkur..."

Aku percaya tidak percaya mendengar penuturannya. Tapi memang benar, aku terkena saraf terjepit setelah jatuh tersungkur setelah membuang sampah di tanah kosong. Dan setelah itu aku berobat ke mana-mana tapi tidak sembuh, malah tambah sakitnya. Dan baru sama bu dukun ini, aku merasa sakitnya hilang.

"ya, udah. Gitu aja. Tapi ini belum selesai. Sampean kesini sekali lagi. Ini belum bersih. Nanti pasti ada kumat-kumatnya." ucapnya. Aku mengangguk. Ada rasa senang dan haru karena akhirnya bisa kembali sehat seperti waktu itu lagi. Ku jabat tangan bu dukun dan ku ucapkan terima kasih.

Begitulah, sudah hampir sebulan, setelah dua kali berobat pada dukun wanita dari Pandaan, sakit karena saraf terjepit yang sudah 4 tahun kurasakan dan menurut dokter harus dioperasi, lenyap entah kemana. Dan tidak pernah kambuh lagi. Semoga Allah memberiku kesembuhan yang benar-benarsembuh. Semuh tanpa meninggalkan rasa sakit. Aamiin.

NB: Kisah nyata dari salah satu pasien pengobatan alternatif dari Pandaan. Nama dirahasiakan.
Bagikan :
Loading...
Back To Top